Menangkan Kotak Kosong Untuk Memutus Politik Dinasti

Oleh Writer, 20 Jul 2020
Terinspirasi dari Pilkada Makasar yang dulu pernah ada kotak kosong melawan calon tunggal, dan keputusannya ternyata memenangkan kotak kosong.  Sang calon tunggal pun hanya bisa gigit jari, padahal pada waktu itu si calon tunggal merupakan kerabat dari bapak Yusuf Kalla dan di dukung oleh semua partai.

Ternyata walaupun mereka calon tunggal apalah daya mereka kalah melawan kotak kosong, bagaimana bisa si kotak kosong yang menang?

Rupanya si calon tunggal ini mendapatkan perlawanan dari sebagian besar warga Makasar, mereka mengajarkan pada si calon tunggal yang sok berkuasa bahwa rakyat tak bisa di dikte oleh telunjuk kekuasaan. Karena masyrakat berpikir dengan adanya calon tunggal ini hanya merupakan ambisi partai politik bukan aspirasi dari rakyat.

Sebelumnya memang para aktivis disana sudah lantang menyerukan untuk lebih memilih kotak kosong, dari mulut ke mulut warga membisikan bahkan meneriakan “menangkan kotak kosong”. Militansi perlawanan luar biasa, hingga mampu menumbangkan dominasi parpol dan keangkuhan penguasa.

Lalu bagaimanakah dengan Solo?

Bisa dan tetap mungkin ceritanya sama seperti di Makasar. Kotak kosong punya peluang untuk membuat malu Gibran, walaupun masih banyak suara pesimistik. Banyak yang bilang di Solo bukan seperti Makasar, disana basis PDIP, Oligarki sudah menguat dan juga faktor kPU yang cenderung memihak pada putra Presiden ini.

Pesimisme yang sengaja di tonjolkan agar warga solo tidak melakukan perlawanan, walaupun banyak yang tidak suka dengan calon tunggal ini. Sampai-sampai ada anjuran langsung dilantik saja, karena pilkada hanya buang-buang duit saja.

Tidak akan seru tentunya jika warga solo yang tidak setuju hanya menerima calon tunggal begitu saja, ternyata pada saat yang bersamaan juga banyak yang terinspirasi dari Pilkada Makasar dan mulai berbisik-bisik untuk melawan oligarki kekuasaan tumbangkan Gibran.

Mungkin perlawanan warga Solo tidak semilitan warga Makasar, perlawanan tak nampak dan diumbar. Namun alon-alon asal kelakon warga Solo mulai gencar melakukan perlawanan.

Padahal sebelum Gibran ada calon lain yang lebih mumpuni dibanding anak Presiden ini yaitu Ahmad Purnomo, mungkin bila dibandingkan calon sebelumnya sudah mendapat simpati warga solo sebesar 40 persen namun Gibran mungkin kurang dari 20 persen saja. Tapi PDIP malah lebih memilih Gibran untuk maju, hal ini tentu saja membuat kecewa Ahmad Purnomo dan para pendukungnya.

Kejadian ini tentu akan menarik simpati rakyat yang kasihan melihat ketidakadilan terhadap Ahmad Purnomo dan akan lebih memilih kotak kosong untuk menjadi simbol simpati mereka. Juga jangan lupakan PKS, satu-satunya partai yang melawan arus menuju politik dinasti. PKS punya modal suara senilai 5 kursi, modal yang cukup untuk lebih memenangkan  kotak kosong.

Juga ada para perindu keadilan di Solo, mereka kerap menjadi tulang punggung demo-demo besar di Solo dan menyuarakan keadilan.

Kalau segenap kekuatan tersebut digabungkan, maka Solo akan menjadi kota kedua setelah Makasar yang memenangkan kotak kosong.

 

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

 
Copyright © KilatUnik.com
All rights reserved