RajaKomen
Kisah Sarang Porang

Kisah Sarang Porang

8 Sep 2021
1979x
 | Ditulis oleh : Admin

HARGA porang –yang kelewat tinggi itu– akhirnya menemukan realitas baru: tinggal sekitar Rp 5000/kg. Sejak bulan lalu.

Dengan harga baru itu petani memang masih bisa untung. Tapi tidak lagi pesta laba. Yang mendebarkan: kalau masih akan turun lagi. Benar-benar harus dicarikan jalan keluar.

Tahun lalu harga umbi porang masih Rp 8.000/kg. Bahkan sempat di atas Rp 10.000. Terlalu menarik bagi petani. Banyak yang pindah menanam porang.

Konsumen tepung porang terbesar adalah Tiongkok. Untuk campuran makanan olahan. Indonesia hanya ekspor chips (umbi yang diiris-iris lalu dikeringkan) ke Tiongkok. Itu pun tidak bisa langsung. Harus lewat Thailand.

Penyebabnya: mirip sekali dengan ekspor sarang burung. Kita tidak konsisten dalam menjaga kualitas. Akhirnya Tiongkok melarang impor sarang burung dari Indonesia. Harga pun jatuh.

Dalam hal sarang burung, kita hanya bisa masuk Tiongkok lewat Malaysia. Diakui sebagai barang Malaysia. Dalam hal porang, kita harus lewat Thailand. Diakui sebagai porang Thailand.

Pengusaha sarang burung Indonesia ada yang nakal. Atau rakus. Mereka pernah menggunakan pencuci kimia. Untuk membuat warna sarang burung menjadi bening mengilap. Sial. Ketahuan. Dilarang total. Yang tidak nakal pun kena getahnya.

Eksporter porang kita sama: porang kualitas rendah dikirim. Bahkan sudah berjamur. Ketahuan. Dicekal total.

Harga porang kali ini merosot bukan hanya akibat itu. Masih ditambah dengan akumulasi tiga faktor sekaligus.

Pertama lagi terjadi krisis kapal dan kontainer (baca : Krisis Tertinggi). Eksporter komoditi lainnya juga pun terkena.

Kedua, Thailand tidak bisa lagi ekspor porang ke Tiongkok. Permintaan dari Tiongkok lagi rendah.

Ketiga, pasokan porang dari petani kita melimpah.

Dalam lima tahun terakhir luasan kebun porang meningkat lebih 100 kali. Bahkan mulai ada budidaya porang di tanah pertanian teknis.

Itu berlebihan.

Tanah pertanian yang sistem pengairannya sangat bagus –yang seharusnya untuk komoditi seperti padi, kedelai, atau jagung– jadi kebun porang.

Porang seharusnya ditanam di tanah yang kurang produktif. Atau sebagai tanaman sela di tengah kebun tanaman keras. Atau di tengah hutan.

Dengan demikian tanaman porang tidak perlu biaya pemeliharaan. Kalau pun harga turun seperti sekarang, kalau perlu, jangan dipanen. Umbinya bisa dipertahankan di dalam tanah. Tanpa biaya pemeliharaan. Tahun depan umbinya kian besar. Juga kian tua: rendemennya tinggi.

Tapi porang yang ditanam di tanah pertanian tidak bisa dibiarkan sampai tahun depan. Bisa sih bisa. Tapi perlu biaya pemeliharaan.

Kini masanya orang memasuki periode konsolidasi. Ekspansi harus dihentikan dulu.

Konsolidasi pertama adalah bibit. Jangan lagi ada yang mau membeli bibit dengan harga mahal. Masing-masing petani harus menanam porang dari benih porangnya sendiri.

Menanam porang dengan benih sendiri akan membuat daya tahan petani lebih kuat. Kalau saja harga porang turun lagi ke bawah Rp 5.000/kg masih bisa terus hidup.

Konsolidasi kedua: pembuatan chips/keripik porang. Jangan lagi dikeringkan dengan panas matahari. Keringnya tidak bisa standar. Tingkat kekeringannya juga tidak terukur. Kering yang tidak sempurna itu bisa menimbulkan jamur. Jamur itu tidak terlihat oleh mata. Tapi bisa terdeteksi di lab milik importer di negara tujuan.

Tentu mengeringkan pakai pemanas api/listrik/gas menimbulkan biaya. Mungkin bisa dijemur dulu 1 hari, lalu dikeringkan pakai pemanas.

Konsolidasi ketiga, industri pengolahan porang. Sekarang ini baru ada dua pabrik tepung porang. Yakni yang bisa mengolah chips porang menjadi tepung.

Tidak mudah membangun pabrik tepung porang. Tapi bisa.

Tepung porang bukanlah tepung biasa. Tidak sama dengan tepung singkong, jagung atau tepung kelapa.

Tepung porang harus pakai proses pemurnian. Kian tinggi kemurniannya kian baik. PT Ambico di Porong –sejak ada Inul Daratista dan Widodo Sucipto saya tidak perlu lagi menjelaskan Porong itu di mana– bisa memurnikan tepung porang sampai 95 persen.

Diperlukan ilmu dan teknologi cukup tinggi di proses pemurnian tepung porang itu.

Konsolidasi keempat adalah membentuk pasar dalam negeri. Sekarang ini kita masih impor tepung porang 2.000 ton/tahun. Chips porang itu kita ekspor. Lalu kita impor tepungnya. “Gile!” kata Ida Royani.

Berarti kita harus tahu pabrik makanan apa saja yang selama ini menggunakan tepung porang. Garuda Food pastilah salah satu yang terbesar.

Konsolidasi kelima agak sulit: tapi bisa. Ini menyangkut orang berduit yang takut makan karbohidrat. Mereka harus beralih ke beras shirataki. Itulah beras tanpa karbohidrat yang terbuat dari tepung porang.

Selebihnya hanya satu lagi: sabar. Kalau masih punya. (Dahlan Iskan)

(hajinews)

Baca Juga:
Biaya Kursus Persiapan TOEFL untuk Pemula: Budget Aman Mulai dari Sekian!

Biaya Kursus Persiapan TOEFL untuk Pemula: Budget Aman Mulai dari Sekian!

Pendidikan      

21 Apr 2025 | 472


Bagi banyak orang, ujian TOEFL (Test of English as a Foreign Language) menjadi salah satu syarat penting untuk melanjutkan pendidikan atau mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Namun, bagi ...

Peringkat Website di Google untuk Bisnis Lokal: Strategi Local SEO yang Wajib Dicoba

Peringkat Website di Google untuk Bisnis Lokal: Strategi Local SEO yang Wajib Dicoba

Tips      

22 Maret 2025 | 207


Dalam era digital yang semakin berkembang, memiliki kehadiran online yang kuat menjadi suatu keharusan bagi bisnis lokal. Peringkat Website di Google memainkan peranan yang sangat penting ...

Viral

Kunci Sukses Meningkatkan Interaksi dan Share di Video Anda

Gadget      

2 Apr 2025 | 204


Di era digital ini, video telah menjadi salah satu alat pemasaran paling efektif. Banyak pelaku usaha dan kreator konten bertanya-tanya, "Kenapa sebuah video bisa menjadi viral?" ...

Facebook

Rahasia Sukses Mengelola Grup Facebook: Bikin Komunitas yang Tumbuh Organik

Tips      

15 Apr 2025 | 625


Membuat grup di Facebook adalah langkah awal untuk membangun komunitas digital yang dinamis dan aktif. Dalam era digital saat ini, banyak orang mencari tempat untuk berbagi minat, ...

PKN STAN

Keunggulan PKN STAN dan Daya Saing Lulusan di Dunia Kerja

Pendidikan      

28 Apr 2025 | 661


Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN) telah lama dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi terbaik di Indonesia, khususnya dalam bidang keuangan dan perpajakan. Dikenal ...

Strategi Konten Viral Meningkatkan Penjualan Untuk UMKM

Mengapa Konten Viral Penting untuk Bisnis? Ini Jawabannya!

Bisnis      

26 Maret 2025 | 226


Dalam dunia digital saat ini, konten viral telah menjadi salah satu alat pemasaran yang paling efektif bagi bisnis. Dengan semakin tingginya persaingan di pasar online, menciptakan strategi ...