Sungkan atau Sengaja? Memahami Suami yang Tak Mau Menanggung Biaya Hidup
Oleh Admin, 28 Jun 2025
Dalam kehidupan berumah tangga, tanggung jawab merupakan fondasi penting yang menopang keharmonisan. Suami sebagai pemimpin keluarga diharapkan mampu menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, baik dalam aspek nafkah, emosional, maupun kehadiran fisik.
Namun, tidak semua suami mampu menjalankan peran ini dengan baik. Beberapa suami menunjukkan tanda-tanda kurang bertanggung jawab, yang jika tidak disikapi dengan bijak oleh istri, dapat menimbulkan konflik berkepanjangan.
Ciri pertama dari suami yang kurang bertanggung jawab adalah enggan memberikan nafkah. Meski kondisi ekonomi bisa naik turun, suami yang bertanggung jawab akan tetap berusaha memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Sebaliknya, suami yang malas bekerja, terlalu bergantung pada istri, atau menghamburkan-hamburkan uang untuk kepentingan pribadi, menunjukka kurangnya kesadaran akan tanggung jawab finansial.
Kedua, suami yang sering menghindari masalah rumah tangga. Ia cenderung lari dari diskusi, tidak mau terlibat dalam pengambilan keputusan penting, atau menyerahkan semuanya kepada istri. Sikap ini menunjukkan ketidaksiapan dalam memikul beban bersama, yang seharusnya menjadi bagian dari peran seorang suami.
Ketiga, kurangnya komitmen emosional. Suami yang kurang bertanggung jawab biasanya juga tidak hadir secara emosional. Ia tidak mau mendengarkan curahan hati istri, tidak peduli dengan kebutuhan emosional anak, dan lebih fokus pada kepentingan pribadinya.
Keempat, tidak konsisten antara perkataan dan tindakan. Suami seperti ini sering mengumbar janji tetapi tidak pernah menepatinya, baik dalam hal keuangan, waktu, maupun tanggung jawab lain. Ketidakpastian ini dapat menggerogoti kepercayaan istri dan anak-anak.
Menghadapi suami yang kurang bertanggung jawab bukan perkara mudah. Namun, seorang istri yang bijak tidak serta-merta mengambil alih seluruh beban rumah tangga. Ia perlu bersikap tegas namun tetap penuh kasih. Komunikasi yang terbuka menjadi kunci utama. Istri perlu menyampaikan harapan dan kekecewaan dengan cara yang tidak menyudutkan, namun jelas dan jujur.
Selain itu, istri juga dapat mengajak suami untuk melakukan refleksi diri, bahkan bila perlu mengikutsertakan pihak ketiga seperti konselor penikahan atau tokoh agama. Ini dapat membantu suami menyadari perannya dan perlunya perubahan sikap.
Namun, jika segala upaya sudah dilakukan dan suami tetap tidak berubah, istri juga berhak mengambil langkah untuk menjaga kesejahteraan diri dan anak-anak, termasuk mempertimbangkan opsi terakhir seperti pisah rumah atau perceraian jika diperlukan. Dalam Islam, misalnya, hak istri untuk meminta cerai dalam kondisi suami yang lalai adalah sah dan dilindungi.
Kesimpulannya, suami yang kurang bertanggung jawab dapat membawa dampak besar bagi stabilitas keluarga, namun dengan kesabaran, komunikasi yang sehat, dan keberanian mengambil keputusan bijak, istri tetap bisa menjaga martabat dirinya dan masa depan anak-anak.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya