rajabacklink
Dibalik Jendral H.M Soeharto Tidak Ikut Diculik Oleh PKI

Dibalik Jendral H.M Soeharto Tidak Ikut Diculik Oleh PKI

3 Okt 2020
2674x
Ditulis oleh : Writer

Selama ini banyak sekali tuduhan yang mengatakan bahwa Jendral H.M Soeharto terlibat atau otak dari peristiwa G 30 S PKI. Sebelum meneliti siapa itu Soeharto, seharusnya kita bisa melihat fakta siapa saja Jendral yang menjadi korban PKI. Faktanya penculikan para Jendral oleh PKI yaitu mereka yang satu gerbong dengan Nasution dan Yani. Rombongan inilah yang sering berhadapan dengan PKI, yaitu saat adanya pertemuan satu meja di kabinet maupun pada pertemuan atau rapat kenegaraan lainnya.

Bisa dibayangkan betapa benci dan dendamnya PKI kepada para Jendral ini, bersama Nasution dan Yani mereka sering bersitegang dan menentang apa-apa yang di usulkan oleh PKI.

Sementara itu PKI bersikap sangat ramah dan terlihat akrab bersama Bung Karno dalam Nasakon, yang mempunyai pengikut hingga 10 juta massa dan puluhan Underbow binaan. Termasuk juga ada CGMI, SOBSI, PR, BTI, Fadjar Harapan, Pemuda Sosialis Indonesia, Lekra, hingga Gerwani. Namun saat itu ABRI tidak gentar menghadapi manuver-manuver PKI. Mereka dengan tegas selalu melawan usulan-usulan PKI yang dinilai membahayakan Pancasila.

Pada saat itu negara mempunyai lebih dari 10 Menteri yang mendukung PKI, yang memang pada waktu itu PKI hanya tinggal berhadapan dengan ABRI saja untuk memuluskan rencananya menguasai Pemerintahan Negara ini bila Bung Karno wafat. Namun berulang kali usaha mereka patah saat berhadapan dengan orang yang mereka sebut dalam fitnahan Dewan Jendral.

Dewan Jendral merupakan sebutan untuk sebuah khayalan PKI, dengan maksud agar dipropaganda-kan sebagai grup Jendral penentang Bung Karno. Sebenarnya memang tidak ada istilah Dewan Jendral dalam negara Indonesia saat itu.

Dewan Jendral sengaja dihembuskan PKI dan difitnah bahwa mereka adalah PKI, tetapi faktanya mereka adalah Jendral yang menentang PKI. Mereka Jendral yang sangat Pancasilais, mencintai bangsa serta patuh pada pemerintah yang sah. Tuduhan tersebutlah yang nantinya akan dijadikan alasan PKI untuk menyudutkan bahkan membunuh para Jendral yakni Nasution dan Yani serta para rekannya.

Soeharto yang berada diluar gerbong memang tidak dianggap anggota Dewan Jendral oleh PKI. Soeharto saat itu memang berpangkat Mayjen, namun bertugas menjadi Panglima Kostrad. Beliau berada ditengah pasukan dan bukan berada didalam pemerintahan, yang otomatis PKI tidak memandang beliau sebagai sosok militer yang berbahaya.

Contoh nyata sepak terjang para Jendral yang membuat PKI naik pitam adalah ketika para Jendral melawan atau membendung agitasi PKI maka ABRI membentuk Partai Politik bernama Golongan Karya. Yang pada saat itu PKI menggunakan Bung Karno berhasil memfitnah Masyumi dan Murba sehingga kedua partai yang menjadi saingan PKI tersebut bubar.

Terbentuknya Golkar membuat PKI kesal, sebab sangatlah sulit untuk dihancurkan karena pendirinya merupakan para Jendral aktif.

Selanjutnya ketika kampanye Dwikora yang mengeluarkan resolusi perang Ganyang Malaysia, yang menjadi momen bagi PKI membentuk sukwan sukwani alias sukarelawan perang, dengan harapan kelak bisa mereka manfaatkan seperti Tentara Rakyat Komunis di China saat melakukan revolusi.

Namun lagi-lagi kekuatan dan kecerdasan intelejen MT. Haryono, Suprapto, S. Parman, dan Panjaitan membuat ABRI tidak terlalu mendukung perang itu.

Pertentangan terhadap PKI bersambung, Nasution dan Yani serta rekan-rekan kembali kompak dan keras menolak usulan angkatan kelima Buruh Tani. Ini adalah sebuah usulan gila dari PKI karena meminta Bung Karno agar buruh tani dipersenjatai oleh Negara. Petinggi ABRI tentu saja menolak, karena mencium adanya gerakan persiapan pemberontakan dibalik usulan ini jika sampai Negara menyetujuinya.

ABRI juga melihat gelagat PKI untuk membentuk pasukan bersenjata ilegal untuk memperkuat posisi mereka, gerakan ini pun segera tercium dan ABRI menolak dengan keras. Meski usulan tersebut dibuat dengan alasan untuk perang menghadapi Malaysia.

Belum lagi saat Brigjen Panjaitan menyita 50 ribu pucuk senjata mencurigakan selundupan dari RRC di Tanjung Priuk, senjata itu merupakan pesanan PKI dan betapa hancurnya Aidit, Syam, Nyoto, Sakirman, Nyono, Sudisman dan Latif. Hingga saking bencinya Sakirman dia memasukkan nama adiknya S. Parman agar turut dihabisi juga, karena S. Parman adalah asisten Jendral Ahmad Yani.

Dan pada puncaknya kekesalan PKI yang sudah sangat dekat dengan Bung Karno merasa kaget dan sakit hati, karena Bung Karno menyatakan penggantian dirinya kelak adalah Yani. Aidit dan Syam pun panik luar biasa, apalagi tim dokter RRC mengatakan bahwa umur Bung Karno tidaklah lama lagi. Aidit memang berkehendak menjadi Presiden, namun Bung Karno malah lebih memilih Yani sebagai penggantinya.

Artinya jika Yani menjadi Presiden maka kecil harapan PKI untuk menguasai atau berkiprah dinegara ini. sangat susah mereka meloloskan niat untuk mengubah Pancasila dan menjadikan Ideologi Komunis di Indonesia.

PKI bergerak gegabah dengan menganggap bahwa jika barisan Nasution dan Yani mereka hancurkan, lantas semua pasukan ABRI bisa mereka kuasai. Karena gerakan mereka tidak diridhoi Alaah SWT, maka rencana mereka gagal total. Rakyat pun tidak  mendukung gerakan kudeta tersebut.

Ketika Pasukan gabungan dikerahkan Soeharto merangsek masuk kewilayah Lubang Buaya para dedengkot PKI panik. “kita sudah kalah” ujar Brigjen Suparjo pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965. “Jawa tengah akan berbicara teman-teman” balas Sjam Komaruzaman. Sedangkan Letkol Untung sepanjang hari hanya diam termenung dan sorenya kabur ke Tegal.

Dan jika memang Soeharto tidak dibunuh karena terlibat PKI, maka tidak masuk akal kenapa sepanjang perjalanan PKI sejak 1948 hingga 1965 tidak ada satupun photo atau dokumen tentang kebersamaan petinggi-petinggi PKI bersama Soeharto.

Hanya fakta yang dapat membuktikan tentang fitnahan bahwa Soeharto terlibat dengan PKI. Dan tidak ada fakta yang menunjukkan keterlibatan Soeharto meski hanya selembar photo atau secarik dokumen.

Itulah sebagian kisah tentang fakta bahwa tidak ada bukti apapun yang menjurus kepada terlibatnya Jendral H.M Soeharto dengan gerakan terlarang G 30 S PKI.

 

Berita Terkait
Baca Juga:
sosial media

Pemantauan Media Sosial: Langkah Awal Meningkatkan Kredibilitas Brand

Bisnis      

27 Apr 2025 | 133


Dalam era digital saat ini, media sosial telah menjadi salah satu platform terpenting bagi bisnis untuk berinteraksi dengan pelanggan. Dengan lebih dari 4 miliar pengguna aktif di seluruh ...

Tryout Online Sejarah: Menyongsong Masa Depan Pendidikan dengan Sejarah

Tryout Online Sejarah: Menyongsong Masa Depan Pendidikan dengan Sejarah

Pendidikan      

18 Jun 2025 | 106


Dalam era digital saat ini, pendidikan mengalami transformasi yang signifikan. Salah satu inovasi terbaru adalah penggunaan tryout online sejarah UNBK. Dengan platform tersebut, siswa dapat ...

Deteksi Dini Sebelum Memanggil Tekhnisi Komputer Bila Komputer Mendadak Mati

Deteksi Dini Sebelum Memanggil Tekhnisi Komputer Bila Komputer Mendadak Mati

Gadget      

10 Jun 2020 | 1638


Adalah hal yang paling dan sangat menjengkelkan apabila  Personal Computer ( PC ) dikantor atau dirumah disaat dibutuhkan tiba tiba rusak atau mati total,otomatis kerjaan kita akan ...

 Rajakomen Membantu Peningkatan Akun StartUp Baru

Rajakomen Membantu Peningkatan Akun StartUp Baru

Tips      

28 Apr 2025 | 135


Di era digital saat ini, banyak pengusaha yang berusaha untuk memasuki pasar dengan StartUp mereka sendiri. Namun, di tengah persaingan yang semakin ketat, bagaimana cara untuk meningkatkan ...

Masa Depan Bisnis Afiliasi Indonesia di Tengah Persaingan Global

Masa Depan Bisnis Afiliasi Indonesia di Tengah Persaingan Global

Bisnis      

11 Apr 2025 | 157


Bisnis afiliasi Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir. Konsep bisnis ini, yang melibatkan pemasaran produk dan jasa melalui sistem komisi, ...

 Cara Menilai Interaksi Pengguna lewat Google Analytics

Cara Menilai Interaksi Pengguna lewat Google Analytics

Tips      

20 Apr 2025 | 127


Mengukur interaksi pengguna di website Anda sangat penting untuk memahami bagaimana pengunjung berinteraksi dengan konten yang Anda tawarkan. Dalam era digital ini, menghadirkan pengalaman ...