RajaKomen
Enough Is Enough, Jokowi

Enough Is Enough, Jokowi

21 Jun 2021
1380x
 | Ditulis oleh : Admin

Kejatuhan rezim despotik Jokowi penindas rakyat semakin dekat. Ketidakpuasan sudah meluas ke seluruh lapisan masyarakat dan seluruh Indonesia. Kebijakan yang dibuat hanya menguntungkan segelintir taipan Cina dan kroni pendukung oligarki kekuasaannya, sementara pada saat yang sama menindas dan menzalimi rakyat yang menjadi pemilik sah negeri ini.

Kebengisan bermula dari kriminalisasi aktivis Islam menggunakan UU ITE sejak tahun 2016. Sudah ratusan orang masuk penjara padahal tak satu pun unggahan para terpidana tersebut di media sosial secara hukum mempunyai unsur pidana yang bisa dijerat dengan UU ITE.

Namun karena zalim, bengis dan otoriter, rezim despotik Jokowi yang didukung buzzer biadab sudah tak terhitung melanggar UU dan Pancasila untuk memaksakan kehendaknya memenjarakan aktivis. Terbukti kemudian tidak cuma aktivis Islam yang diciduk dengan tuduhan radikal, anti Pancasila dan anti NKRI, tetapi juga siapa saja yang berani mengungkap kebusukan rezim yang sudah sekarat mau tumbang ini.

Puncak dari kebiadaban dan kebengisan rezim despotik Jokowi adalah pembunuhan secara biadab terhadap 6 pengawal Habib Rizieq yang merupakan pelanggaran HAM berat dan dikritik dengan keras oleh Amnesty International. Semua lembaga hukum sudah mandul dan takluk di bawah ketiak rezim despotik Jokowi. Polisi, jaksa, hakim dimanipulasi dan disalahgunakan untuk memburu aktivis tak berdosa.

Penyalahgunaan keuangan negara tak tanggung-tanggung, sudah ratusan triliun dikorupsi yang motornya adalah PDIP. PDIP yang menjadi tulang punggung kekuasaan rezim despotik Jokowi berada di pusat korupsi dengan Megawati sebagai aktor intelektual utamanya. Kader-kader PDIP sudah ratusan yang ditangkap karena korupsi. Puncaknya, mega skandal korupsi super biadab Bansos yang ditujukan untuk membantu korban pandemi virus Cina. Alangkah biadabnya Mensos Juliari Batubara, seorang kader PDIP, yang tega berbuat demikian. Juliari pantas dihukum mati.

KPK yang merupakan lembaga produk kebanggaan reformasi untuk memberantas korupsi dirusak dan dimatikan secara biadab oleh rezim despotik Jokowi agar kekuatan oligarki leluasa bisa menggarong uang rakyat. PDIP yang korup dan sekutunya tak rela bila KPK bekerja dengan benar. Karena kalau KPK bekerja dengan benar, maka kader-kader PDIP tak akan ada yang tersisa, karena mereka semua adalah pelaku korupsi. Pokoknya KPK harus dimatikan.

Penghilangan Harun Masiku adalah kunci dari semua kebusukan Jokowi, Megawati dan PDIP. Kuat dugaan dalam kasus korupsi Harun Masiku, PDIP sebagai lembaga terlibat. Itu sebabnya harus dihilangkan. Bila tidak, maka akan membawa bencana yang bisa menyeret Megawati sebagai titik episentrum korupsi. Tidak cuma itu, PDIP bisa dibubarkan bila terbukti ada dana korupsi yang mengalir ke kas partai. Dalam skandal mega korupsi lainnya, seperti Bansos, Asabri dan lain-lainnya, PDIP disebut-sebut mendapat jatah korupsi.

Rezim despotik Jokowi selalu mengklaim kerja, kerja, kerja dengan pencitraan baju putih digulung selengan dan blusukan ke mana-mana. Tetapi itu hanya penipuan murahan karena hampir semua BUMN merugi. Rugi karena dua hal. Pertama, karena salah kelola akibat rezim despotik Jokowi tidak bisa bekerja, dan kedua, karena memang BUMN dijadikan sapi perah lahan korupsi oleh semua partai politik pendukung rezim despotik Jokowi.

Di samping korupsi yang merajalela selama rezim despotik Jokowi berkuasa, nepotisme juga mencapai puncaknya secara fantastis. Bagaimana mungkin BUMN bisa untung bila para komisarisnya diangkat dari para buzzer dan relawan bodoh yang tidak punya kemampuan dan hanya bisa caci-maki di medsos? Sebut saja Dede Budiarto, Kartika Djumadi, Ulin Niam, dan terakhir Abdi Slank. Apa kemampuan manusia-manusia super bodoh ini kecuali hanya menyebarkan fitnah kepada sesama anak bangsa, menyulut perpecahan, melakukan intimidasi biadab, dan semua hal yang merusak persatuan bangsa?

Seandainya rezim despotik Jokowi bekerja dengan benar dan memang punya kemampuan untuk bekerja, tak mungkin neraca APBN defisit terus sehingga harus melacurkan diri ke lembaga keuangan internasional untuk mencari pinjaman. Menkeu Sri Mulyani hanya bisa menaikkan pajak yang mencekik dan mengisap darah rakyat. Ketidakmampuan Sri Mulyani hanya puncak dari gunung es yang segera akan meledak. Akibat kebodohan ini rezim despotik Jokowi sudah menambah hutang yang jumlahnya fantastis. Di akhir pemerintahannya ditaksir utang negara akan mencapai 10.000 triliun !!!

Apa artinya? Bahwa setiap bayi yang lahir di bumi pertiwi sudah mendapatkan hutang sekian juta rupiah yang ditinggalkan rezim despotik Jokowi yang nirprestasi ini.

Puncak dari kegagalan, kebusukan dan kebiadaban rezim despotik Jokowi adalah rusaknya demokrasi. Hukum dilanggar, lembaga-lembaga hukum disalahgunakan, lembaga yang potensial jadi kendala seperti KPK dimatikan, dan rusaknya ruang publik karena mencuatnya perpecahan sesama anak bangsa akibat fitnah dan provokasi buzzer piaraan rezim di bawah asuhan Muldoko si Kakak Pembina. Para buzzer sengaja dipelihara oleh rezim despotik Jokowi untuk memuji dan menjilat rezim nirprestasi ini, melakukan provokasi dan intimidasi kepada anak bangsa yang berbeda pandangan politik, dan sebagai alat pengalih perhatian karena kegagalan rezim despotik Jokowi dalam memimpin negara.

Isu SARA dimunculkan, tuduhan radikalisme, anti NKRI, anti Pancasila dihembuskan oleh para buzzer asuhan Muldoko untuk mengalihkan perhatian publik akibat masifnya kegagalan rezim despotik Jokowi hampir dalam semua bidang. Alangkah malangnya negeri kaya-raya ini bila tidak diselamatkan oleh para mahasiswa calon pemimpin bangsa. Bila bukan mahasiswa sebagai kekuatan moral bangsa yang bergerak, siapa lagi? Bila bukan mahasiswa yang bertanggung jawab akan semua bahaya yang menimpa bangsa ini, siapa lagi?

Ingatlah, kriminalisasi aktivis menggunakan UU ITE, pembunuhan KPK, mega skandal korupsi, penyalahgunaan lembaga hukum, penindasan terhadap rakyat, salah kelola negara, pelanggaran HAM berat, dan pembunuhan terhadap demokrasi pelakunya sama. Yaitu rezim despotik Jokowi. Maka tak ada alasan bagi semua elemen bangsa yang cinta akan bangsa dan negeranya untuk tidak bersatu menyelamatkan bangsa ini. 

Rakyat sudah tahu semua hal ini. Mahasiswa sudah tahu semua kebusukan negerinya yang mengalami salah kelola di bawah rezim despotik Jokowi. Rakyat dan mahasiswa hanya menunggu momentum yang tepat untuk bergerak. Rakyat dan mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan !!!

Salam pergerakan !!!
 
Salam dari Depok kampus perjuangan.

###

Berita Terkait
Baca Juga:
Backlink Lokal vs. Backlink Internasional: Mana yang Lebih Menguntungkan?

Backlink Lokal vs. Backlink Internasional: Mana yang Lebih Menguntungkan?

Tips      

3 Maret 2025 | 201


Dalam dunia pemasaran digital, salah satu komponen penting yang sangat memengaruhi keberhasilan SEO (Search Engine Optimization) adalah backlink. Backlink dapat dibedakan menjadi dua ...

Jika Guru Madrasah Bukan Seorang Muslim

Jika Guru Madrasah Bukan Seorang Muslim

Nasional      

14 Jun 2021 | 1031


Analis Kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Andi Syaifullah mengatakan, kebijakan penempatan guru beragama kristen di sekolah ...

Optimasi Profil Medsos untuk Agen Properti Profesional

Optimasi Profil Medsos untuk Agen Properti Profesional

Tips      

24 Mei 2025 | 191


Penggunaan media sosial (medsos) telah menjadi salah satu strategi pemasaran yang paling efektif dalam dunia bisnis, terutama di sektor properti. Dengan miliaran pengguna aktif setiap ...

pesantren modern di bandung

Kurikulum Modern & Islami: Perpaduan Pendidikan Umum dan Agama di Al Ma’soem

Pendidikan      

11 Maret 2025 | 237


Pesantren Al Ma’soem Bandung merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mengintegrasikan kurikulum modern dan islami. Terletak di jantung kota Bandung, pesantren modern ini menjadi ...

Hanya Jaman Jokowi, KPK bisa Takluk

Hanya Jaman Jokowi, KPK bisa Takluk

Politik      

3 Jun 2021 | 1445


Sejak banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh PDI Perjuangan, sepertinya menjadi acuan pemerintah untuk mengkerdilkan KPK, agar KPK tidak bisa seenaknya mencari koruptor. Apalagi ...

Belajar Matematika untuk Anak dengan Menggunakan Bank Soal SD di Tryout.id

Belajar Matematika untuk Anak dengan Menggunakan Bank Soal SD di Tryout.id

Pendidikan      

1 Maret 2025 | 184


Belajar Matematika untuk anak merupakan salah satu proses pendidikan yang sangat penting. Matematika tidak hanya berfungsi sebagai alat menghitung, tetapi juga sebagai dasar berpikir logis ...